Senin, 08 Februari 2016

Baluran dan Ijen, Ketika Mimpi Menjadi Kenyataan

Pernah punya mimpi dateng ke sebuah tempat tapi hopeless duluan gara-gara ngerasa gak mungkin banget bisa kesana? Yap, Baluran dan Ijen. Letaknya yang terlalu jauh dari Bandung membuat dua lokasi tersebut selalu terabaikan untuk dikunjungi mengingat banyaknya biaya dan waktu yang harus dikeluarkan untuk mewujudkannya. Namun sekarang, dua tempat yang setia bertengger di deretan “travel destination” berhasil tercentang jugak! Akhirnyahhh!

Berawal dari ketidak sengajaan, saya menemukan sebuah brosur tour and travel yang menawarkan destinasi Baluran dan Ijen dari Pare, Kediri dengan harga Rp180.000,- aja. “Gilak! Murah Banget! HARUS BANGET IKUTI!” Seketika kejenuhan saya tinggal dan belajar English di Kampung Inggris Pare, Kediri berubah menjadi rasa syukur, karena ternyata letak Pare sangat strategis untuk dijadikan starting point dalam mewujudkan mimpi-mimpi saya untuk mengunjungi satu persatu tempat wisata yang ada di East Java Travel Destination List. Uyeah~

Baru sempat rehat satu hari dari trip Yogyakarta yang ceritanya bisa kamu baca di sini, dengan antusias tinggi saya langsung mengayuh sepeda sewaan menuju tour and travel yang dimaksud.
“Mbak, ke Ijen sama Baluran berangkatnya kapan? Mau dong daftar!”
“Kalo Ijen dan Baluran itu keberangkatannya jarang-jarang. Kebetulan banget malem ini ada jadwal berangkat kesana soalnya banyak barengannya juga.” Jeng jeng.
Kata-kata yang dilontarkan mbak travel seraya petir menyambar mengingat kondisi fisik yang belum sempat full rehat dari trip sebelumnya. Tapi rasa penasaran yang tinggi menaklukan rasa capek yang saya rasakan.

“Oke, saya ikut ya mbak!”

***

TAMAN NASIONAL BALURAN. 

Membaca rentetan huruf kapital dengan latar hutan tersebut membuat saya tersenyum dengan sendirinya.  Dengan total waktu tempuh kira-kira 10 jam perjalanan dari Pare, mobil elf yang kami tumpangi akhirnya tiba di Taman Nasional Baluran, tempat impian saya yang pertama.

“Syif, bangun. Udah nyampe!” saya buru-buru membangunkan teman asrama saya, Syifa asal Jakarta, untuk bergegas menyiapkan diri.
“Tenang aja mbak, dari pintu masuk ke Padang Savana masih jauh. Sekitar 1,5 jam. Lanjutin aja tidurnya,” jawab pak supir.
“Eits...Jangaaaan... Jangan tidur lagi... Kapan lagi liat hutan-hutan unik kayak gini!”

Yap. Untuk mencapai Sabana Bekol (Sabana terluas a.k.a Afrikanya Indonesia), kita harus melewati jalan setapak dengan pemandangan hutan di kanan-kirinya. Serasa di film adventure, mobil elf kami melaju sendirian melewati hutan dengan berbagai macam pohon unik yang belum sempat saya lihat sebelumnya. Subhanallah. Indonesia itu kaya. Kaya banget!

Syifa (kiri) dan Saya (kanan) yang tersingkap angin Sabana Bekol.
Pantas saja disebut Afrikanya Indonesia, Taman Nasional Baluran (taman nasional dengan total luas 10.000ha) memiliki Sabana Bekol, Padang Savana dengan luas 300ha yang berhasil membuat saya takjub dengan pesonanya. Pada saat itu musim kemarau, sebuah gunung cantik bertengger di belakang savana luas dengan rumput kuning yang menyelimuti seluruh permukaannya. 
Kabarnya, Taman Nasional Baluran merupakan kediaman bagi lebih dari  26 jenis mamalia, serta 155 spesies burung. Namun, luasnya Baluran membuat saya hanya dapat berjumpa dengan sebagian kecil binatang saja seperti rusa, kerbau, monyet, dan tentunya burung-burung terbang.


Bisa dibilang Baluran itu lengkap. Hutannya ada, pantainya ada. Tak jauh dari Sabana Bekol, terdapat Bama Beach. Kedatangan kami di Pantai Bama disambut antusias oleh rombongan keluarga monyet yang berusaha merampas semua barang di tangan kami. Sambutan yang manis, btw.

Bama Beach. Baluran punya :))
Pantainya yang sepi membuat kita bisa merenung sejenak. Di Pantai Bama kita bisa menelusuri kawasan mangrove dan uniknya, di sana terdapat Kapidada yakni tanaman mangrove terbesar se-Asia! Ruar biasah pemirsah!

Penasaran dengan mangrove terbesar se-Asia? Dateng ke Baluran :)

 ***

KAWAH IJEN. 

“Bangun mbak, bangun. Jaket tebelnya dipake, semua peralatan disiapkan mbak. Siap-siap naik ke atas kawah ijen.” Suara berat pak sopir seketika membangunkan kami semua yang tengah tidur karena kelelahan setelah jalan-jalan di Baluran siang harinya.

Ya, waktu itu jam 01:00 dini hari. Jaket, sarung tangan, baju tebal, kaos kaki, bahkan sarung yang disulap menjadi syal sudah rapi menempel di tubuh saya. Namun sial, dinginnya angin Pal Tuding (rest point Gunung Ijen) masih bisa merasuk hingga ke tulang-tulang. Mau tak mau uang Rp25.000,- saya keluarkan untuk menyewa jaket tambahan. Dinginnya suhu kala itu dirasakan pula oleh seluruh rombongan trip yang terdiri dari 11 orang perempuan (rempong). Menyadari bahwa seluruh anggota trip adalah cewe-cewe (kece), akhirnya kami terlena oleh tawaran Pak Sandi, seorang guide yang menawarkan tarif Rp125.000,- dengan jobdesk: setia menemani hingga puncak Gunung Ijen. So sweet.

Well, ini adalah pengalaman pertama kali saya mendaki gunung. Walaupun Ijen merupakan gunung wisata, saat sampai puncak itu rasanya excited banget! Setelah jalan kaki selama 3 jam, akhirnya saya dan Syifa bisa sampai di atas Gunung Ijen. Sedihnya, kami terpisah dari rombongan dan Pak Sandi The Guide karena pada saat diperjalanan kami diserang oleh angin kencang yang mengharuskan kami untuk diam sejenak sambil berpelukan menguatkan satu sama lain dari terjangan angin. Touching moment :”)

Sayangnya, kami tidak sempat melihat blue fire, api biru berasal dari Kawah Ijen yang menyala pada malam hari. Untuk menyaksikannya, kita diwajibkan turun ke kawah dan menyewa masker tambahan berbentuk aneh seharga Rp25.000,-. Karena menyadari bahwa kami hanya dua ekor perempuan yang pertama kali terjun ke medan yang cukup ekstrim serta ada sedikit kejadian kurang mengenakan yang kami alami, maka kami memutuskan untuk tidak melihat blue fire yang fenomenal itu.

Jangan khawatir, pesona Ijen bukan hanya terletak dari blue fire-nya saja, keindahannya dapat kita lihat saat matahari fajar mulai muncul ke permukaan. Dari sisi kanan terlihat sekali kawah ijen yang sangat cantik dan dari sisi kiri terlihat pemandangan gunung bayangan beserta awan-awan di bawahnya yang terkena semburat matahari pagi. 

Kanan kiri kami adalah surga duniawi :)
“Fiuhhhhhh......” saya menghirup serta menghembuskan nafas berkali-kali. 

Itu kali pertama saya berada di atas sedangkan awan-awan berenang indah jauh di bawah saya. Keindahannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Pada saat itulah saya mulai mengerti tentang para pendaki yang rela jauh-jauh berjalan kaki melewati semua medan ekstrim sambil membawa beban berat untuk berlomba-lomba berada di puncak gunung. Ternyata, Allah menyajikan pemandangan indah tanpa batas bagi siapa saja yang berjuang untuk melihatnya :)


Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? :")

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Hijab Ransel
Maira Gall