Selasa, 26 April 2016

Icip-icip Markobar Jakarta: Martabak Putra Presiden yang Fenomenal


markobar cikini jakarta
But first, let me take a picture
Langit sore kali itu masih diwarnai suasana mendung lantaran hujan rintik-rintik yang mengguyur sebagian wilayah kota Jakarta dan didukung oleh angin sepoi-sepoi yang sesekali menyapa kerudung cream di balik helm putih yang saya kenakan. ’’Tumben, adem’’ kata saya dalam hati. Sepulang dari sebuah event, saya berputar-putar di jalanan melewati macetnya Jakarta, gedung-gedung tinggi di berbagai penjuru kota, serta komplek hunian mewah di pusat kota untuk bertandang ke sebuah kedai penjual martabak fenomenal di daerah Cikini, Jakarta Pusat bernama Markobar: Martabak Kota Barat. Martabak milik mas Gibran Rakabuming Raka putra pertama Pak Jokowi ini memang sudah lama menghantui pikiran saya. Manusia mana yang gak ngiler liat foto martabak warna-warni penggugah selera berkeliaran di berbagai social media? 

Akhirnya, saya berhenti di sebuah tempat bercat hitam bergaya kedai versi modern dengan tulisan putih 'MARKOBAR’ jelas di atasnya. Yap, tidak sulit mendapatkan tempat ini karena memang letaknya ada di Jalan Raden Shaleh no. 39 yang lumayan ramai ditambah dengan bentuknya yang eye catching dibandingkan dengan bangunan-bangunan sekitarnya. 
Untunglah, kala itu sedang tidak ada antrian, serta merta saya maju dan melayangkan sebuah pertanyaan kepada mas-mas kasir dengan wajah yang jika ditambahkan kacamata hitam agak mirip Kaesang (putra bungsu Pak Jokowi).


Saya : ’’Mas, ini pesennya gimana ya?’ Langsung pesen aja?’’
Mas Mirip Kaesang : ’’Iya mba. Bisa diliat ini menunya’’

menu markobar jakarta
foto menu Markobar Jakarta terbaru




Harga markobar Jakarta
  •  Full topping harganya dimulai dari Rp40.000 – Rp110.000,-.
  • Special 8 rasa dibandrol harga Rp90.000,- dan jika ingin digantikan dengan premium topping (kitkat green tea+ovomaltine) perlu menambahkan masing-masing Rp 10.000,-.
  • Martabak 8 rasa dibandrol harga Rp90.000,- dan jika ingin digantikan dengan premium topping (kitkat green tea+ovomaltine) harganya menjadi Rp130.000,-.
  • Spesial 16 rasa (white toblerone, black toblerone, chunky bar, ceres, timtam red velvet, milo, hersheys, nutella, oreo, cadburry, kitkat coklat, keju kraft, toblerone coklat, kitkat greentea, delfi, ovomaltine) dibandrol harga Rp180.000,-! 

 

S       : ’’Martabak 8 rasa ditambah kitkat green tea, mz’’
MMK  : ’’Jadi seratus ribu yah’’ (sambil menyodorkan sebuah kertas bon).
S       : ’’Bayar sekarang, mz?’’
MMK  : ’’Yaiyalah masa yaiyadong. Betul, mb :) ‘’


Setelah menyodorkan selembar uang seratus ribu, saya lekas keluar dari antrian untuk mencari tempat duduk sembari menunggu pesanan jadi. Ada sekitar lima bangku hitam available di sana, namun saya tak lekas duduk melainkan mencari-cari ruangan indoor seperti yang sempat saya lihat di Instagram.



markobar jakarta
tempat orang-orang menunggu nomornya dipanggil
Di depan saya terdapat pintu kaca yang semula saya kira kedai Markobar versi indoor, namun setelah saya masuk ke dalam, ternyata itu adalah restoran yang berbeda. Upsss…… Setelah disadari, markobar ini ternyata memang kedai modern dengan konsep seperti coffe bar yakni para pembuat martabak berada di dalam kaca, ada beberapa bangku (tidak banyak) di luarnya untuk ditempati pengunjung sambil melihat langsung para pembuat martabak meracik sampai martabak dihidangkan.  

pembuat martabak markobar jakarta
jadi ngiler.....
selalu penuh saking fenomenalnya :")
Setelah berkeliling, akhirnya saya memutuskan untuk menunggu dengan duduk di bangku depan kasir sembari menonton sedikit drama antrian which is kisah salah satu bapak-bapak yang ternyata pengemudi ojek online (karena tidak memiliki jaket atribut) dengan tingkah yang menggerutu dari sejak awal bertemu tukang parkir, ngomel-ngomel di depan kasir, hingga akhirnya ditanyai sejumlah pertanyaan oleh salah satu pengunjung. Taburan bumbu cerita hidup memang selalu ada di setiap kesempatan, ya :)
“Nomor 14. Rizka” seorang karyawan memanggil dari balik kaca kedai sambil menggenggam plastik putih berisi martabak 8 rasa yang saya pesan.
'Cepat juga yah proses pembuatannya', bisik saya dalam hati.
“Mas, ini martabaknya dimakan di mana ya? Makan di dalam boleh gak sih? Itu bukan punya Markobar ‘kan?” tanya saya sama mas-mas itu menghindari kejadian salah masuk sebelumnya.
“Kalo mau makan di dalem boleh aja, mba. Minimal pesen minumnya aja yah.”

Setelah memasuki restoran tersebut, saya sedikit lega karena menemukan sebuah figura bertuliskan Markobar. Dan memang, pengunjung di sana ada beberapa yang lagi makanin markobar juga. Jadi gak masalah walau cuma mesen es teh manis sang minuman andalah seharga Rp11.500,- yang penting bisa makan markobar~

Dan inilah tampilan si martabak fenomenal yang selama ini diidam-idamkan.
 
markobar jakarta
Martabak Kota Barat Cikini version~
Saya dihadapkan dengan martabak berukuran kurang lebih 22cm dengan 8 topping yang berbeda. Slice yang pertama saya nikmati adalah kitkat coklat. Sebagai seseorang yang tergolong ke dalam ‘kaum anti coklat’ saya sangat suka dengan bagian ini. Iya, dari dulu saya emang kurang demen yang namanya coklat berwarna coklat (kalo coklat putih, mau) entah itu kue, black forrest, atau apapun jenisnya. Bisa dibilang rasa tidak suka saya terhadap coklat sebanding dengan rasa tidak suka terhadap durian. Kalo dulu sih saya bener-bener anti coklat+durian, tapi semenjak kuliah mulai belajar buat makan walaupun cuma nyicipin. Ternyata gak ada yang salah sama manisnya coklat dan durian, yang salah adalah mindset saya yang males untuk nyoba hehehe. Tapi sekarang mah udah gak anti-anti banget kok, nyobain dikit-dikit mah oke aja, asal jangan kebanyakan, takutnya giung (terlalu manis) kalo kata orang Sunda bilang. Maklumin aja lah, saya kan udah manis, kalo ditambah makan coklat takutnya terlalu manis, karena sejatinya sesuatu yang berlebihan itu kurang baik *apasih*.


markobar jakarta
Muka saya + markobar = kamu gak giung 'kan? *ditimpuk coklat*
Sasaran kedua saya tertuju sama yang satu-satunya slice ijo yakni martabak dengan kitkat greentea. Yummm banget deh, pantesan harganya agak mahal karena rasa enak dan unik begini enggak akan kamu temuin di mamang martabak sekitaran rumah. Sebagai seseorang yang tergolong ke dalam ‘kaum pecandu green tea’’, mencoba sekotak coklat teh hijau yang bertransformasi menjadi sepotong martabak enak ini bisa bikin ngidam lagi di kemudian hari. Gawat, gawat! *liat dompet*

Setelah mencoba dua potong martabak, perut sudah merasa kekenyangan. Sisanya saya cuma icip-icip masing-masing topping, ada coklat yang manis ada yang agak pahit. Buat para pecinta coklat, markobar ini bisa tergolong ke dalam surga dunia! Cocoknya buat dimakan rame-rame bareng temen sambil gosip temen yang gak dateng :D



***

Sebelum melangkah pulang, saya melirik kanan dan kiri.
“Dimana mas Gibran Rakabuming sang Chili Pari ya?”
“Ah, niat saya ke sini kan mau makan martabak bukan bertemu pemiliknya”.
Saya pun melanjutkan langkah pulang karena langit baru saja berubah menjadi gelap.





Markobar Jakarta
Jalan Raden Saleh no. 39 Jakarta Pusat (persis depan Hotel Puri Inn Cikini)
Jam Buka 17:00 - 23:00
Order by phone: 081289563296

1 komentar

  1. Anjaaaay.. Markobar bikin gue penasaran aja nih. Meluncurlah kapan-kapan :)

    BalasHapus

© Hijab Ransel
Maira Gall